Wanita ini Membeberkan Rahasia Orang Tuanya yang Membesarkannya Sebagai Entrepreneur

Posted on

Mari berkenalan dengan Sophia Ellis.

Dia adalah seorang wanita yang bekerja dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya (digital nomad), seorang entrepreneur muda, penulis best seller yang telah mempublikasikan bukunya sendiri di Amazon, dan mempunyai firmanya sendiri dengan brand “personal digital marketing agency”. Hebatnya lagi semuanya dicapai dalam usia 22 tahun.

Sophia Ellis

Menurut penuturannya, adalah orang-tuanya yang membimbingnya untuk menjadi mandiri dan seperti sekarang ini. Mari kita simak,

“Usia saya sekarang 22. Lulusan universitas dan seorang pengusaha.

Itu semua karena orang tua saya.

Kedua orang tua saya melahirkan saya di usia muda yang cukup muda (23-24), keduanya bertekad untuk melakukan semuanya secara mandiri. Ibuku memulai bisnisnya dari rumah dan ayahku bekerja di perusahaan selama beberapa tahun sebelum berhenti untuk memulai bisnisnya sendiri.

Ada beberapa faktor yang menurut saya membantu:

Aku melihat mereka berjalan-jalan.

Anak-anak belajar dari contoh. Titik. Hampir semua teman saya dengan orang tua yang hidup sebagai karyawan tidak pernah bisa membayangkan kewiraswastaan ​​sebagai pilihan nyata. Aku melihat perjuangan itu. Kami hidup berpindah pindah sebanyak 9 kali membuat kami bekerja keras untuk hidup. Dan yang lebih penting lagi, orang tua melibatkan saya.

Aku ingat ketika ibuku sangat sibuk bahkan tidak sempat untuk mengantarku ke sekolah, dia mengajakku dengannya. Seluruh masa kecil saya bersama dengan bisnis mereka. Bagian yang terbaik adalah, saya tetap bersama mereka dan tidak melihat ibu atau ayah menghilang ke tempat yang jauh dari yang disebut dengan “kantor” selama 10 jam sehari. Tidak, kami tidak punya banyak uang seperti anak-anak lain untuk sementara tapi kami yakin semuanya pasti terbayar lunas.

Saya tetap seperti anak-anak normal lainnya, mereka mendorong saya untuk melakukan pembelajaran individual dan memotivasi hal-hal yang lebih dapat dicerna oleh anak-anak.

Saya membaca 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, saya membuat situs web dengan bantuan ayah saya, saya berjam-jam berlatih seni, menulis, dll. Mereka tidak pernah mempermasalahkan jadwal saya. Orang tua saya bukanlah ‘orang tua helikopter’

Mereka memberdayakan kreativitas.

Ibuku pernah belajar di sekolah hukum namun putus sekolah, kemudian mengejar mimpinya untuk menjad desain interior … dan berhasil. Dia sangat marah pada orang tuanya karena memaksanya melakukan sesuatu yang tidak kreatif sehingga dia tidak menemukan kegembiraan, jadi mereka tidak pernah melakukan itu terhadap saya.

Ibuku biasa duduk di lantai apartemen mungil kami dengan cat, pensil, selembar kertas besar dan menunjukkan kepada kita teknik seni klasik. Ketika saya menulis, dia membaca dan mencetak karya saya seperti buku untuk ditunjukkan kepada saya bahwa saya dapat menciptakan hal-hal yang nyata dengan kreativitas. Belakangan, saya membayar jasa-jasanya dengan membantu menulis bukunya, dan dia menjadi penjual best seller Amazon.

Mereka praktis dan terfokus.

Suatu hari ketika saya masih kecil, saya memikirkan sebuah ide bisnis dan ayah saya menunjukkan kepada saya bagaimana menciptakan sebuah situs online dan memasarkannya. Segalanya tentang membangun sesuatu, memulai,d an menyelesaikannya, itu saya rasa sangat berguna di kemudian hari. Saya sekarang melakukan ini untuk mencari nafkah.

Kami bepergian.

Kami tidak punya banyak uang, tapi yang kami punya, kami biasa bepergian. Kami pergi ke 22 negara sebelum saya berusia 17. Orang tua saya bercerai dan masih sepakat untuk bepergian bersama untuk tidak menghilangkan pengalaman kami. Pengalaman datang lebih dulu. Saya sekarang tinggal di Eropa sementara ayah saya ada di Australia dan kita semua bekerja secara remote untuk bisa bepergian satu sama lain.

Memiliki mentalitas global membantu memecahkan pemikiran siklus kerja “9-5”. Anda melihat kemungkinan lain. Anda tidak perlu menginap di Hotel Four Seasons untuk memberi anak-anak Anda pengalaman yang mengubah hidup. Masih ada AirBnB.

Mereka tidak menghamburkan uang pada saya.

Saya mulai bekerja untuk uang saya di 14. Yang saya inginkan, saya bekerja. Saya harus mencari cara kreatif untuk menghasilkan uang, mengerjakan berbagai pekerjaan, dan menabung untuk apa yang saya inginkan. Terbukti teman-teman saya yang memiliki akses kartu kredit orang tua mereka sampai usia 18 tahun ternyata tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan sesuatu bagi diri mereka sendiri.

Ayah tidak membedakan anaknya hanya karena wanita.

Ayah pernah berkata, “Saya tidak akan membesarkan Anda seperti anak perempuan, tapi sama seperti anak laki-laki. Anda akan menghasilkan uang sendiri dan saya tidak akan mempertanyakan pilihan sosial atau kencan Anda. Terserah Anda”.

Saya tidak sadar sampai saya melihat gadis-gadis lain tumbuh dewasa, jangan pernah memperlakukan anak perempuan Anda secara berbeda daripada seorang anak laki-laki. Tantangan jaman kedepan akan semakin kompleks dan kabur antara batas-batas pria dan wanita dalam mencari penghidupan.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *